jump to navigation

Penjual Angkringan Yang Hebat Agustus 2, 2012

Posted by kamarnulis in motivasi.
trackback

Kisah ini terjadi setahun yang lalu, tepatnya tanggal 12 Juli 2011 saya pulang dari kampus, namun sebelumnya saya pergi ke daerah Godean Jogjakarta untuk bertemu salah satu teman saya. Pulang dari Godean sekitar pukul 19.00 WIB atau jam tujuh malam. Terasa sangat melelahkan karena sebelumnya ada latihan Ujian Akhir Program yang dilaksanakan oleh kampus saya.

Karena merasa lelah, lapar, dan haus saya berpikir untuk mampir di salah satu warung melepas dahaga saya. Diwarung angkringan (warung wedangan khas Jogjakarta) tepatnya di trotoar jembatan dekat Carre*ur Babarsari lah tempat yang saya datangi. Sebelumnya saya belum pernah mampir di angkringan itu. Segelas es teh dan satu bungkus nasi saya makan, setelah makan dan minum, biasa menyalakan rokok saya lakukan. Saat itu saya baru menyadari kalau penjual angkringan itu seorang bapak yang sudah tua dengan logat jawa yang kental. Entah kenapa saya ingin mengobrol dengan bapak itu. Basa-basi saya keluarkan untuk mengawali pembicaraan itu.

Penjual angkringan itu bernama bapak Yadi, perawakan kecil, tua, dan memakai topi. Ngobrol ngalor-ngidul sampai waktu terasa cepat sekali. Tak disangka ternyata bapak Yadi mempunyai bisnis lain selain angkringan, beliau mempunyai bisnis lain yaitu loundry, persewaan motor, dan kos-kosan 12 kamar. Dari bisnisnya ini pak Yadi bisa menyekolahkan 3 orang anaknya. Anak yang pertama sekarang bekerja di perusahaan LPG di Bogor, anak yang kedua kuliah di Universitas Atma Jaya Jogjakarta, dan anak terakhir baru di bangku SLTA. Beliau menceritakan cara mendidik anaknya yang saya pikir sungguh luar biasa bagi seorang penjual angkringan. Saya tidak menyangka seorang pak Yadi, penjual angkringan, bisa membuka bisnis Loundry dan bisnis persewaan motor dengan memiliki 25 motor, Sungguh Luar Biasa. Dia menceritakan bahwa dirinya sering direndahkan dan diremehkan karena berprofesi penjual angkringan, dan saya yakin mereka belum tahu bisnis lain pak Yadi.

Pak Yadi hanya bisa pasrah ketika diremehkan oleh orang lain karena penampilan dirinya yang maaf, dekil dan terlihat seperti gembel. Tapi beliau tetap tenang, walaupun dibalik itu bisnis lain beromset jutaan per bulan. Pak Yadi berpesan kepada saya bahwa jangan menilai orang dari penampilan luar saja, karena penampilan bisa menipu, saya langsung menangkap apa yang dimaksudkan pak Yadi. Beliau juga berpesan bahwa kita harus senantiasa bersyukur atas apaun yang diberikan kepada kita, rejeki sedikit ataupun banyak harus disyukuri. Saya pun heran dengan penampilan pak Yadi seperi itu, saya tidak menyangka kalau dia pemilik bisnis loundry dan persewaan motor yang sukses.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Hampir tiga jam kami mengobrol dan tentu saja banyak nasihat-nasihat yang sangat berguna bagi saya. Sebelum saya pulang kata-kata terakhir yang diucapkan pak Yadi kepada saya yang membuat saya terkesan adalah

“Mas, wong tuwo ki nek anak e sukses lan berhasil ki ora njaluk diwenehi dhuwit sing penting mikul dhuwur mendhem jero, wong tuwo ki wes seneng banget”

Yang berarti “Orang tua kita apabila kita sukses tidak perlu dikasih uang, karena dengan kesuksesan dan keberhasilan kita sebagai anak sudah bisa mengangkat harkat dan martabat orang tua kita, itu sudah cukup membuat bangga orang tua kita”. Kata-kata itulah yang sekarang saya ingat dari mulut seorang yah,,,bukan seorang motivator, manajer, ataupun dosen, tetapi dari mulut seorang penjual angkringan. Saya salut terhadap pak Yadi….Semoga semangat dan perjuangannya bisa kita contoh….
Terimakasih pak Yadi……………

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tuliskan Komentar Anda di sini :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: